Shalom atau Zholim

Yerusalem, tempat yang menyambut Kristus dengan gempita lambaian daun Palma, adalah juga tempat yang berteriak lantang meminta Yesus disalibkan. Yerusalem dapat berubah dari “shalom” menjadi “zholim” bagai Kristus, hany berselang beberapa hari.

Yerusalem seseungguhnya adalah penggambaran kerapuhan hati manusia, yang bisa begitu memuja Sang Raja pada suatu waktu, namun kemudian mengolok-olok dan membunuhNya, tidak lama kemudian.

Ingatkah kita, bahwa Kristus juga memasuki gerbang hati kita dalam kesederhanaan, dalam rupa hosti kecil yang rapuh. Adakah kita termasuk mereka yang bersorak gembira ketika Ia masuk, namun kemudian menyalibkanNya di dalam lewat dosa-dosa kita? Lewat nafsu, kecemaran, dusta, kebencian, hasutan, dan umpatan? Berapa kali kita menyalibkan Yesus yang bertahta dalam hati kita? Adalah pilihan kita, akan menjadi “Yerushalom” yang bertahan dengan lambaian daun palma, atau menajdi “Yeruzholim” yang menyalibkan Sang Raja.

Yerusalem, butuh beberapa hari untuk berubah dari “shalom” menjadi “zholim”. Kita? Terkadang hanya beberapa saat setelah Kristus masuk dalam diri kita, kita langsung menyalibkan Dia. Kalau kita sekarang tidak bisa menyambut TubuhNya, mungkin inilah saatnya kita merenungkan segala kekurangan dan kerapuhan kita.

Salam dan doa

Diakon Benediktus Yogie SCJ

(Diambil dari  Warta Paroki Santo Barnabas No 14, 05 April 2020)