Lazarus Dibangkitkan

Semua orang pasti akan merasa sedih tatkala ditinggal mati saudaranya, apalagi orang itu masih ada pertalian darah. Tidak salah pula bila mereka meratap, menangis dan merasaan kehilangan yang sangat mendalam. Dalam hidup sehari-hari, kita juga mengalami sederet kehilangan: kebebasan, kepercayaan, kesempatan, harga diri dan sebagainya.

Berhadapan dengan sederet kehilangan itu, kita bisa putus asa, menyalahkan orang lain, Tuhan dan diri sendiri. Tetapi, bisa juga kita menjadi semakin sadar bahwa kita memang nothing, tidak adda apa-apanya. Dalam diri kita tidak ada yang bisa diandalkan. Hidup ini tidak ada yang pasti, sewaktu-waktu bisa berubah.

Kematian Lazarus adalah peristiwa yang menyedihkan bagi anggota keluarga dan tetangga sekitarnya. Sebuah peristiwa yang menyayat hati. Tepatlah ungkapan Marta kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”.

Kalau kita hidup dalam hadirat Allah, semua menjadi pasti. Dalam Dia ada segalanya. Oleh karena itu, semakin sadar dan menerima keterbatasan dan kerapuhan manusiawi kita, kemuliaan dan kekuatan Allah semakin terasa kuat dalam hidup kita. Dalam hadirat Allah, ratapan berubah menjadi tarian, kerapuhan menjadi kekuatan yang pasti.

Salam dan doa

Pius Suryo H

Prodiakon wilayah IV

(Diambil dari  Warta Paroki Santo Barnabas No 13, 29 Maret 2020)