Serawi Sejarah [2] Gembala di Selatan

Bekal pengalaman dan kemampuan saya sebagai mantan Ketua Lingkungan Cipinang Baru Timur di Paroki Keluarga Kudus Rawamangun selama dua periode, ternyata tidaklah cukup ketika saya diangkat menjadi Ketua Wilayah IX Paroki St. Stefanus Cilandak. Praduga yang saya buat, bahwa menjadi ketua wilayah memiliki tantangan yang sedikit lebih besar daripada sewaktu di Rawamangun, dimentahkan sama sekali dengan keadaan yang terjadi di wilayah baru yang kini menjadi tanggung jawab dan wewenang saya.

Pengalaman demi pengalaman baru bermunculan. Sebagai perpanjangan tangan Gereja di selatan Paroki, wilayah IX meliputi daerah Pasar Jumat, Ciputat, Pamulang, Reni Jaya, hampir sebagian Sawangan, dan Parung tentunya membutuhkan sepenuhnya perhatian saya, sehingga dengan sekuat tenaga saya berusaha untuk ngemong, mengayomi setiap lingkungan yang saya pimpin. Faktor geografis itu, ternyata cukup menjadi kendala. Hal itu diikuti dengan jumlah umat di dalam satu wilayah telah nyaris mencapai 5.000 orang. Khusus daerah Ciputat, mereka bahkan telah mempersiapkan diri dengan mendirikan stasi St. Nikodemus yang per 27 April 2003 menjadi Paroki Santo Nikodemus Ciputat.

Salah satu pengalaman yang menantang, adalah ketika suatu sore, Romo Mark Fortner kembali mendatangi saya dengan skuter Vespanya. Mengikuti arahannya, saya mengikuti Romo Mark untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di lingkungan Santo Pius X. Duduk perkara yang terjadi, adalah bahwa renggangnya relasi antar warga lingkungan, akibat jarangnya terjadi komunikasi dan pertemuan lingkungan, sehingga lingkungan yang luas berakibat pada masalah kurangnya pengetahuan warga mengenai lingkungan tempat tinggalnya.

Saya, dalam kapasitas sebagai ketua wilayah, merasa terkejut karena kondisi yang demikian ternyata luput dari pengetahuan dan perhatian saya. Apa sebabnya? Kembali ke tantangan di mana saya harus mengayomi sekian luas wilayah dan sekian banyak umat, dengan kebutuhan dan permintaan yang berbeda-beda dan pikiran yang berbeda-beda, namun semuanya merasa sendiri, tanpa mendapatkan perhatian yang memadai dari Paroki.

Pengalaman lain, adalah ketika umat di Ciputat, dalam persiapan stasinya tadi, merasa sudah lebih “mandiri” dan tidak memiliki peran yang intensif dalam wilayah IX. Sikap acuh tak acuh ini ditunjukkan dengan kemauan mereka untuk lebih mengikuti misa lingkungan di Kompleks MABAD, Ciputat, daripada di Gereja Cilandak. Pertimbangan lain, karena setiap kali diadakan ekaristi wilayah, maka hanya warga satu lingkungan saja yang datang, mengingat jauhnya jarak dan renggangnya relasi antar lingkungan, yang semuanya menuntut kepekaan ketua wilayah.

Perlu saya jelaskan, bahwa ketika itu, setiap lingkungan sudah mencapai lebih dari 1.000 orang, dan dari satu wilayah yang merentang luas itu, hanya terbagi dalam lima lingkungan, antara lain,

  • Santa Anastasia (Pasar Jumat – Ciputat)
  • Santa Anna (Pamulang II)
  • Santa Elizabeth (Pamulang)
  • Santo Ignatius Loyola (Sawangan)
  • Santo Pius X (Reni Jaya)

Setiap lingkungan memiliki demikian banyak umat yang harus ditangani. Saya sendiri semakin intensif untuk mengadakan pertemuan dengan ketua-ketua lingkungan dan mendengar keluhan mereka yang seterusnya saya sampaikan dalam rapat-rapat Dewan Paroki Pleno dan kepada Pastor Paroki Cilandak.

Di selatan, di mana saya dibebankan tanggung jawab menjadi koordinator, di sanalah saya diutus menjadi penanggung jawab, namun saya harus menghadapi jalan yang lebih terjal lagi, karena tantangan jauh dari kata mudah. Namun, tantangan yang besar demikian, juga memberi dampak yang positif untuk saya, sehingga saya memiliki pola komunikasi yang lebih teratur dan semakin sering. Diaspora umat begitu besar, rupa-rupanya tidak hanya terjadi di wilayah saya, namun hanya wilayah saya yang memiliki luas geografis nyaris menyamai luas sebuah kabupaten!

Pertanggungjawaban yang harus saya hadapkan, semakin digugat, serta keberanian saya di dalam memutuskan tindakan-tindakan yang memengaruhi kehidupan menggereja, khususnya di wilayah yang saya pimpin, menjadi bagian yang tak terpisahkan, yang menjadi bagian dari sejarah yang semakin meruncing.

Saya diutus menjadi perpanjangan tangan Paroki. Maka, jika bersedia menggunakan andai-andai mengenai kehidupan seorang “gembala”, saya adalah juga gembala yang dipercayakan Paroki menjaga sekian banyak “domba” yang tersebar dalam luas wilayah, perbedaan pikiran, perbedaan kebutuhan, namun semuanya membutuhkan satu hal: Pelayanan!

Ya, mereka membutuhkan diri saya untuk dilayani, karena mereka tanggung jawab saya, di mana saya memusatkan tanggung jawab kepada Dewan Paroki, dengan menampung sekian banyak usul-usul untuk dilaksanakan secara bersama-sama.

Dari sekian banyak pertimbangan mengenai pikiran untuk menyatukan umat yang terpecah-pecah, sesudah mendengar saran dan pertimbangan Romo, maka saya mempertimbangkan adanya sebuah misa wilayah yang mengundang semua umat di wilayah, dalam jangka waktu yang lebih sering. Misa ini diadakan menurut jadwal, bukan menurut kebutuhan. Dengan pendekatan melalui misa, saya akan jauh lebih mudah untuk mengondisikan dan menyampaikan program dan visi-misi Paroki yang harus saya jelaskan kepada umat yang tidak saling mengenal, bahwa fungsi wilayah adalah sebagai sarana membentuk persekutuan (koinonia) yang lebih kecil dan intim, menciptakan persaudaraan dalam iman, harapan, dan kasih.

Sekarang, jika gagasan itu sudah terlintas di dalam benak, maka pertanyaan pun timbul, di mana tempat yang paling tepat untuk menjadi persilangan wilayah itu? Di manakah sekiranya lokasi yang dianggap “adil” untuk menyelenggarakan misa wilayah, di dalam arti, mudah dijangkau, tidak begitu jauh, dan mudah diingat? Siapakah yang bersedia untuk menampung sekian banyak umat, dalam satu waktu yang ditentukan, setiap bulannya?

Bersambung.