Serawi Sejarah [1] Suatu Sore di Bulan Juni

Mulai hari ini, Parokibarnabas.org akan menayangkan 27 serial “Serawi Sejarah” secara bersambung. Dua puluh tujuh kisah mengenai sejarah berdirinya Paroki Pamulang, Gereja Santo Barnabas ini merupakan salah satu “hadiah” memperingati 27 Tahun Berdirinya Paroki Pamulang, 17 Juli 2020 mendatang. Selamat membaca.

(*)

Pamulang, Juni 1986.

Angin mendesau, ramah menyapa di sore hari yang cerah. Daerah yang berjarak kurang dari 10 kilometer dari ibukota ini, adalah wilayah baru yang mulai dibangun perumahan-perumahan yang diperuntukkan bagi keluarga muda. Demikianpun keluarga kami, yang dalam bulan ini menginjak bulan kelima, sejak pertama kali kami pindah dari Rawamangun, Jakarta Timur di pertengahan Januari.

Sebagai daerah baru yang dahulunya adalah bekas hutan karet, cuaca masih amat sejuk dan bersahaja. Di sore hari seperti ini, di lingkungan baru yang saya huni, di sini pula Tuhan mengutus kami menjadi saksi-Nya. Saya, menerima kehormatan itu sebagai panggilan dan tantangan yang dihadirkan Tuhan untuk menilai kesetiaan mengikut Dia.

Demikianlah, dalam waktu lima bulan, bersama istri, setiap sore kami mengobservasi daerah baru ini, dengan tujuan untuk mencari keluarga-keluarga Katolik di sekitar rumah kami. Dari sejumlah informasi yang saya dapat kemudian, ternyata lingkungan ini merupakan bagian dari wilayah IX Paroki Cilandak, Gereja Santo Stefanus, yang digembalakan imam-imam Serikat Hati Kudus Yesus (SCJ).

Lima bulan pencarian dan penghimpunan yang saya lakukan, ternyata Tuhan berkenan atas usaha ini. Setelah terkumpul 30 warga yang berkumpul di rumah saya, melaksanakan kegiatan ibadat sabda, maupun pendalaman iman. Saya sendiri tidak memiliki tujuan khusus untuk pelayanan ini. Penghimpunan ini, adalah untuk mengeratkan persatuan, karena ketika itu umat masih dalam situasi diaspora. Wilayah IX sendiri, mempunyai cakupan kawasan yang cukup luas, mulai dari Pasar Jumat, Jakarta Selatan, sampai ke Sawangan, Depok.  

Demikianlah yang kami lakukan, sampai suatu sore, seorang Amerika bertubuh jangkung menghentikan skuternya di depan pagar rumah kami. Dari perawakannya, mungkin ia adalah seorang kenalan, tetapi saya ragu akan praduga itu sendiri. Siapa yang menyangka, bahwa ia adalah seorang rohaniwan!

“Saya Romo Mark Fortner, SCJ, Pastor Paroki Cilandak, Gereja Santo Stefanus.”

Dengan segala sikap hormat dan segan dalam menyambut pastor, kami menerima kehadiran Romo Mark yang sengaja mampir ke rumah kami, juga membawa pemikiran yang tidak diduga sebelumnya.

Dalam bulan Juni, Gereja Santo Stefanus ketika itu tengah menyelenggarakan pemilihan ketua wilayah baru, dan khusus di wilayah IX, terpilih Bapak Dradjat Suseno dari lingkungan St. Anastasia. Artinya, dalam waktu dekat, Bapak Dradjat-lah yang akan mengampuh tugas untuk menjadi ketua wilayah, di mana lingkungan kami termasuk di dalamnya.

“Anda punya referensi siapa saja? Orang Katolik yang mengenal Anda?”

Ketika itu, tidak ada yang terlintas di benak kami. Maka saya menyebutkan beberapa nama, di antaranya adalah pastor paroki saya sebelumnya, seorang suster senior dari tarekat RGS, dan beberapa orang seorang bruder Jesuit. Mendengar referensi yang disebutkan, Romo Mark mengangguk-angguk.

Entah mendapat informasi dari siapa, namun Romo Mark ternyata mengetahui “ritual sore” yang kami lakukan selama beberapa bulan ini. Ketika ia bertanya, alasan yang keluar adalah serta-merta karena semangat pelayanan kami masih begitu tinggi, mengingat kehadiran kami sebagai warga baru, menuntut keaktifan untuk melebur di dalam komunitas lingkungan yang baru.

Sepenuturannya, Romo Mark memperhatikan apa yang saya kerjakan, dan menilai saya sebagai sosok yang sesuai untuk menjadi perpanjangan tangan Paroki di wilayah ini. Kedatangan Romo Mark ternyata tidak sembarangan bertamu; ia melakukan asesmen mengenai kapasitas kami! Maknanya, jauh dari yang kami duga, adalah bahwa Romo Mark tengah menilai apakah kami layak atau tidak menjadi ketua wilayah yang baru!

Peristiwa sore hari itu, seterusnya menjadi perkembangan yang baik dalam karya kerasulan saya di wilayah maupun lingkungan. Dalam pertemuan wilayah maupun lingkungan, nama saya mulai disebut-sebut sebagai calon ketua wilayah yang akan diresmikan. Begitupun, saya merasa bahwa ini tidak lebih dari rahmat Tuhan, yang memanggil dan merencanakan segala sesuatu mengenai masa depan saya di lingkungan yang baru ini.

Sesuatu yang mengejutkan sama-sekali, karena saya tidak pernah menduga akan kehadiran Romo Mark, sore hari itu. Dalam pandangan yang masih saya kagumi, adalah sistem asesmen yang disusun oleh Romo Mark, menguji kapasitas dan kemampuan saya menjadi ketua wilayah baru.

Dalam karisma dan profesionalitasnya, Romo Mark melakukan langkah-langkah teliti dan cermat untuk memastikan kualitas seorang ketua wilayah yang akan dilantik. Barulah beberapa waktu kemudian, saya membenarkan tentang seleksi ketat berupa penelusuran bakat, yang kini dikenal seperti talent-scouting itu. Bukan hanya mengenai kesanggupan untuk melayani umat dan mengayomi setiap lingkungan secara proporsional, namun saya diembani tanggung jawab yang besar, karena ketua wilayah menentukan arah pengambilan kebijakan Dewan Paroki, sekaligus menjadi jembatan penghubung antara Gereja dan umat.

Pendekatan yang dilakukan sore itu oleh Romo Mark Fortner terbukti benar. Ketua wilayah yang terpilih dan dilantik beberapa minggu setelahnya, mendapatkan tanggung jawab besar, di antaranya beberapa persoalan, yang kadang menuntut kepekaan, namun lebih tepat menantang saya untuk semakin dalam menyelami seluk-beluk pengabdian sebagai pengurus Gereja. (Bersambung)