Damai yang Sejati

Saudara-saudariku, pernahkah dalam hidup Anda menerima suatu pernyataan cinta, yang membuat Anda begitu bahagia karena dicintai? Rasa dicintai dan diterima sangat membebaskan seorang manusia. Rasa bahagia karena dicintai membuat seseorang mampu berkembang menjadi dirinya yang unik seoptimal dan sebaik mungkin.

Naasnya, tidak semua dari kita sering mengalami hal itu. Apabila mau lebih Jujur pada diri sendiri: bahkan cinta yang kita berikan kepada orang lain selalu ada pamrih. Bahkan, juga kepada orang-orang yang dekat di hati kita sekalipun. Dengan rendah hati balk bila mengakui hal ini dan terus berjuang untuk semakln tulus mencintai. Dengan rendah hati mengakui kerapuhan manusiawi, dan juga dengan berani terus berusaha mencintai dengan tulus.

Hidup di zaman yang berubah dengan cepatnya, menjadi tantangan tersendiri untuk mencintai dan itu artinya semakin tidak mudah pula bagi kita menerima pengalaman dicintai.

Apakah klta harus berputus asa? Tldak! Lalu apa ada alasan untuk percaya? Ya, ada! Pada hari ini, Tuhan Yesus bersabda “Damai sejahter-Ku kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.

Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27). Kasih Allah diberikan kepada kita setiap saat dalam hidup . Secara lebih tegas kita menyambut Tuhan dalam komuni dalam Perayaan Ekaristi, dan kita mengalaminya melalui banyak orang yang mencintai kita (kendati dalam kerapuhan manusiawinya ). Allah senantiasa menjaga kita dan mencukupkan hidup kita hari ini.

Percaya akan kasih Allah itu, marilah kita menyadari bahwa kendati dalam hidup ada kesedihan, selalu ada sukacita kendati dalam hidup ada kemalangan dan ketidaktulusan, selalu ada penyelenggaraan Tuhan yang tulus untuk diri kita.

Dengan menggenggam harapan itu dalam hidup dan karya kita, maka hati pun akan mengalami damai. Damai yang Tuhan berikan kepada klta dalam perjuangan hidup kita. Selamat merayakan hidup penuh harapan!

Salam dan doa

Fr. Johanes de Britto Jorgi Prakosa Sonda, SCJ