Sebuah Kisah Cinta yang Sesungguhnya

Ini kisah tentang seseorang yang begitu mencintai kita, hingga Ia rela memberikan segalanya –termasuk nyawanya- demi keselamatan kita. Seseorang yang, bahkan, tak punya kesempatan mencecap kenikmatan bagi dirinya sendiri.

Adakah Ia sekarang menuntut balasan cinta dari kita? Oh, tidak. Cintanya tidak sereceh itu, yang seolah harus dibalas agar ia tidak berdekut muram. Cintanya bukan cinta penuh syarat, seperti yang sering kita banggakan sekaligus kita palsukan sebagai cinta sejati itu. Ia tidak butuh love goals yang indah dan muluk karena baginya, puncak dari cinta adalah penderitaan dan pengorbanan diri yang menyakitkan.

Kalaupun kita ingin membalas cintanya, balasanmu tak seujung kuku pengorbanannya untukmu. Kebaikan kita, ungkapan cinta kita padanya, tak lebih dari ucapan terima kasih lantara Ia telah lebih dulu mencintai kita tanpa syarat. Dan kalaupun kita tidak mencintainya, bahkan melukainya berulang kali, Ia tetap akan mencintai kita.

Maka, setiap kali kita merasa bahasia karena berhasil menjauhi atau membalas mereka yang suka menyakiti kita; setiap kita menulis litany status kelam hanya karean merasa dikhianati; setiap kali kita  merasa bahwa cinta adalah ambisi serta prestasi dalam memiliki dan menaklukkan seseorang, bisikkanlah dalam hatimu: “aku hanyalah orang lemah yang sering membual tentang cinta sejati. Aku tegak melantangkan cinta, namun merunduk bersembunyi dari luka…”

Selamat Paskah!