Mengapa Kita Memohon Sakramen Tobat Melalui Para Imam?

Pertanyaan ini sering diucapkan oleh saudara kita dari Kristen yang lain. “Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan pengampunan, bukan pastor. Jadi kita langsung mengaku dosa langsung kepada Yesus, dan tidak perlu mengakukan dosa di hadapan pastor.” Kemudian ada komentar-komentar dari orang Katolik; “Saya malu, karena saya kenal sama pastornya. Bagaimana kalau pastornya sampai membocorkan rahasia pengakuan dosa saya?”

Istilah sakramen tobat yang paling tepat adalah sakramen rekonsiliasi, dasarnya adalah kasih Allah yang lebih dahulu menawarkan pendamaian kepada umatNya dan pengampunan Allah. Jika memakai istilah sakramen pengakuan dosa, orang cenderung malu dan terbebani karena harus mengakui kelemahan dan dosanya.

Efek dari dosa bukan hanya mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan dan tapi juga mempengaruhi hubungan kita dengan sesama. Dosa juga berdimensi sosial. Misalnya, seorang ayah yang sering marah di rumah, menyebabkan istri dan anak-anak ketakutan. Yang lebih parah, anak-anak pun dapat tumbuh sebagai pemarah.

Sakramen Tobat bukan hanya mendamaikan kembali kita dengan Allah, tapi juga mendamaikan kembali hubungan kita dengan Gereja. Gereja itu satu tubuh (1Kor. 12:12-31). Bila ada satu warga Gereja yang berdosa, maka seluruh tubuh yakni Gereja ini menjadi sakit. Gambarannya begini; kalau dalam keluarga kita ada satu saudara yang mendatangkan aib, seluruh anggota keluarga ikut menanggung aib dan kesedihan. Jadi, dosa seseorang selalu berdampak kepada keseluruhan komunitasnya. Melalui Sakramen Rekonsiliasi, terjadilah pendamaian antara kita yang berdosa dan seluruh Gereja. Pastor yang mendengarkan pengakuan dan memberikan absolusi sungguh mewakili seluruh Gereja.

Kitab Suci mengajarkan bahwa Tuhan memakai perantara seperti para nabi dan imam. Dalam Perjanjian Lama, apabila seseorang melakukan kesalahan, dia harus membawa korban tebusan dan seorang imam harus mengadakan perdamaian bagi orang itu dengan Tuhan (Imamat 19:20-22). Musa menjadi perantara antara bangsa Israel dengan Tuhan (Keluaran 32:20). Bahkan saat menyembuhkan sepuluh orang kusta, Yesus menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri kepada para imam, agar para imam dapat menyatakan mereka sembuh (Luk 17:12-14).

Yesus sendiri memberi kuasa kepada para rasul untuk mengampuni dosa. Kuasa itu diteruskan oleh para Uskup dan imam-imamnya, karena pada dasarnya para imam menjalankan tugas perutusan apostolik (tugas para rasul). Dasarnya ada pada Injil Yohanes 20:21-22: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yohanes 20:21-23).

Jika masih bertanya-tanya mengapa mengaku dosa harus melalui pastor dan tidak langsung kepada Tuhan, tentu secara logis bisa kita jelaskan dalam hidup sehari-hari :

  • Jika sakit, Tuhan menyembuhkan kita melalui perantaraan dokter. Imam pun “seorang dokter” yang dipilih Allah untuk menyembuhkan sakit rohani.
  • Jika yakin bahwa Tuhan langsung mengampuni, tanpa melalui imam, tentu efek jera susah dirasakan oleh si pendosa. Misalnya, setelah mencuri, dia dengan tenangnya berkata bahwa Tuhan pasti mengampuni dosanya.
  • Mengaku dosa bagaikan menumpah-kan uneg-uneg kepada orang yang dipercaya sehingga memberi kelegaan psikologis dan spiritual.

Gereja sangat menjunjung tinggi martabat sakramen tobat. Imam yang membocorkan rahasia pengakuan dosa akan dihukum berat yakni ekskomunikasi latae sententiae (Kitab Hukum Kanonik 1388 par 1), yang mana imam tidak hanya dikeluarkan sebagai Imam namun juga dari ke-Katolikannya. Imam yang mengetahui dosa para umat dilarang keras untuk melakukan hukuman di luar kamar pengakuan. Contoh, Si A mengaku mencuri uang persembahan milik gereja. Dalam kasus ini, Imam dilarang memberi hukuman di luar kamar pengakuan karena itu sama dengan membocorkan rahasia pengakuan dosa.

Kita melihat bahwa semakin berkurangnya rasa bersalah atau rasa berdosa pada manusia zaman ini. Dengan kemajuan cara berpikir dan pendidikan yang tinggi, orang menjadi semakin rasional dan dalam arti tertentu mudah kehilangan rasa berdosa, sebab orang dapat membuat rasionalisasi perbuatannya. Contoh: korupsi tidak lagi melahirkan rasa malu dan bersalah, karena merasa seluruh karyawan di kantor melakukannya. Orang membela diri, “kalau tidak ikut korupsi, ya tidak mendapat bagian dan keuntungan. Ini sudah biasa”. Jika ini terjadi, kita perlu mempertajam hati nurani yang sudah mulai tumpul itu.

Ditulis Oleh:
Diakon Benediktus Yogie SCJ